Langsung ke konten utama

Postingan

BANGUNAN MEGAH DAN IMAN KECIL

Anda pernah berkunjung dan menunaikan shalat di Masjid Islamic Centre Kalimantan Timur? Jika pernah, anda pasti akan berpikir sama denganku, bahwa Masjid tersebut memiliki struktur bangunan megah yang di hiasi dengan ukiran-ukiran kaligrafi menarik. Bagi wong deso sepertiku, melihat rumah dua tingkat saja sudah terkesima minta ampun, apalagi melihat Masjid semegah Islamic Centre yang konon menelan biaya miliyaran rupiah. Sungguh membuatku terkagum-kagum tak karuan. Di kampung, masjid yang sering kugunakan untuk ibadah hanya dengan gubuk-gubuk beratapkan dedaunan. Meski demikian, masjid tersebut membuatku bisa khusyu’ dalam menjalankan shalat. Terasa alami, sunyi, damai dan tentram seolah sedang bersua dengan Allah Sang Khalik, begitulah nikmatnya menjalankan shalat di masjid gubuk itu. Berbeda dengan dengan Masjid Islamic Centre. Terlalu ramai dan bising. Mulai dari hiasan yang ‘narsis’ hingga suara kipas angin yang berputar seolah kita berada di sebuah kapal penumpang yang akan mengan...

Lagu manca, antara ‘kafir’ dan ‘Islami’[*]

Oleh: Taufik bilfagih[†] Agak sedikit bingung untuk memahami judul tulisan saya di atas, dan mungkin sebingung saya berpikir terhadap realitas frem berpikir masyarakat (Samarinda) hari ini (yaa, nggak semualah). Tentu pemikiran yang mengganggu dan mengusik hati saya adalah mapannya sebuah paradigma berpikir masyarakat tentang mengukur baik-tidak, sesat-tidak, boleh-tidak, dan bisa tidaknya memutar lagu berbahasa Inggris di radio ‘Islami’ (dakwah). Kebetulan (sekedar informasi) saya hari ini sedang duduk sebagai penyiar salah satu radio dakwah Samarinda, Radio Darussalam FM. Radio ini milik sebuah Yayasan, yaitu Yayasan masjid raya Darussalam Samarinda di jl. KH. Abdullah Marisie. Darussalam Fm adalah radio yang sangat digemari oleh kaum muslimin setempat. Dan kebanyakan darinya adalah orang tua. Betapa tidak, program acara yang disajikan selama satu hari penuh berorientasi pada nilai-nilai ibadah (ritual), seperti ceramah dakwah, relay shalat dengan masjid, dialog interactive (wacana i...

Media dan Hegemoni oleh: Taufik Bilfagih

Globalisasi merupakan peristiwa yang paling "tersohor" pada sekitar abad 21. Bahwa dunia akan diseragamkan dan menghapus identitas dan jati diri serta kebudayaan lokal yang di "makan" oleh kekuatan global. Dan begitulah Globalisasi. Alvin Toffler menyebutnya "dunia ketiga", setelah agrikultur (dunia pertama) dan industri (dunia kedua). Pergeseran yang terjadi adalah kekuasaan dari pusat kekuasaan dengan sumbernya yakni tanah, lalu kapital (modal), dan selanjutnya penguasaan terhadap informasi (sains dan teknologi). "kejahatan dan imprealism pengetahuan" 'Hegemoni' (Antonio Gramsci) tidak hanya berkaitan dengan dominasi politik, berupa kekuatan, tetapi juga dengan dominasi budaya, melalui bahasa. Pada sistem kekuasaan yang dibutuhkan bukan hanya 'kekuatan' (senjata militer), namun yang diperlukan juga "publick consent" (penerimaan publik) yang didapat melalui mekanisme kepemimpinan kultural, begitu juga peguasaan bahasa.S...

Karena Beda Aku Dewasa

Oleh: M. Taufik Bilfagih* Pada tahun 2004, Bill menjadi seorang pemuda Kosiem (Komunitas Islam Emansipatoris). Selama empat hari, dia mengikuti pendidikan Islam Emanasipatoris dan dilatih secara intensif di Auditorium MAN Model Samarinda, di mana tempat itu adalah wadah pengkaderan komunitas Islam Emansipatoris dalam bentuk pendidikan dan pelatihan. Dia mempelajari paham agama dalam pandangan tafsir emansipatoris yang sangat kekinian (kontekstual), bentuk Islam Emansipatoris, visi dan misi Islam Emansipatoris dan gerakan serta wacana Islam Emansipatoris, semuanya diperolehnya melalui pendidikan tersebut. Dia pulang dengan membawa sertifikat dan banyak wacana ke-Islaman dari sana. Dan disaat itulah dia resmi menjadi anggota Kosiem dan harus mengamalkan apa yang menjadi visi dan misi Kosiem (Humanis, Kritis, Transpormatif dan Praksis. Red). Segera setelah kembali ke kampusnya (STAIN Samarinda), dia aktif memperjuangkan paham Islam Emansipatoris dengan mengadakan kajian setiap malam mingg...

Piala Dunia Merebut Hak Hidupku, Oleh Taufik Bilfagih

Malam itu jantungku berdebar. Secara kaget aku terbangun dari tidur lelapku. Suara teriakan segelintir orang membuatku gugup ketakutan. Sepintas dalam benakku memikirkan bahwa teriakan tersebut semacam gemuruh orang ketika kerusuhan. Wajar jika aku berpandangan demikian, karena tempatku tinggal, banyak pemuda yang sering mabuk-mabukan setiap malam. Sambil berjalan miring, biasanya mereka juga berteriak sekuat-kuatnya (istilah orang manado; bakuku) bahkan terkadang melempar benda keras ke salah satu atap rumah warga. Hal ini mungkin sebagai simbol bahwa mereka adalah orang-orang perkasa yang bisa menaklukkan siapa saja yang berani melawan. Tentunya, ini akan memancing kemarahan warga sekitar. Lebih jauh lagi akhirnya berpotensi kerusuhan. Lebih mengkhawatirkan lagi, di daerahku, dihuni oleh komunitas yang berbeda-beda, baik agama, suku, ras dan kepercayaan (multikultural), pastinya prilaku pemabuk tadi akan berpotensi SARA. Ah,,, kudengar lebih teliti lagi, teriakkan tadi berbeda sepert...

SATPOL PP dan PKL

Suatu ketika, SATPOL PP bikin ulah lagi. Kali ini target operasinya di sebuah pasar tradisional yang udah ada Perda bahwa pedagang tidak di izinkan untuk beraktivitas dagang di lokasi tersebut. Ada penjual langsat. Belum sempat melarikan diri, barang dagangannya di hambur oleh PP. Karena dianggap melawan, salah seorang Satpol PP mengambil sebuah langsat dan dimasukkan ke lubar “ubur” (pantat) si pedagang kecil. Ia pun menagis dan berteriak histeris. Tak puas dengan ulahnya, SatPol PP melangkah ke jalan berikutnya, mereka menemukan penjual salak. Seperti biasa, salah seorang PP memasukkan barang dagangan tersebut ke dalam pantat pedagang. Anehnya, pedagang tersebut tidak marah, mengangis dan berteriak kesakitan. Tapi justru tertawa terbahak-bahak. Ketika ditanya PP “Kenapa kamu tertawa?” tanya PP. “Hehehe, pak-pak... saya tertawa membayangkan, di sebelah saya ada teman yang lagi jualan Durian. Kasihan pantatnya bakal di masukkin durian... kikikikik” lucon si pedagang.

Pening Karena STATUS

Ridwan adalah mahasiswa jurusan Dakwah STAIN Samarinda. Ia mengambil program studi Manajement Dakwah (MD) karena ia merasa program ini lebih spesifik dengan keberadaannya. Semenjak dibukanya pendaftaran penerimaan mahasiswa baru di STAIN, Ridwan terus kebingungan baik dari segi mekanismenya, hingga merasa keterasingannya. Terlepas dari itu Ridwan tetap solid dalam memilih jurusan. Sebenarnya Ridwan adalah lulusan SMA umum yang tadinya akan mendaftar di Universitas umum pula yakni, UNMUL. Persolannya, di UNMUL dia tidak diterima sedangkan di STAIN ia dipersilahkan masuk dengan lulus bersyarat (karena nilai tes baca al-Qur’annya kurang baik). Semua telah berlangsung dengan baik, Ridwanpun menjadi mahasiswa aktif pada jurusannya tersebut. Tentu Ridwan harus merasa asing, karena Universitas yang didudukinya adalah universitas bidang ke-agamaan sedangkan bagrounnya adalah sekolah umum. Jurusan Dakwah yang ia pilih adalah jurusan yang menurutnya sedikit mudah untuk diikuti sagala progr...