Langsung ke konten utama

Postingan

Panjul dan Syari’atnya

Daerah kami dikenal sebagai wilayah yang penuh dengan suasana kerukunan, saling menghargai, bahkan saling mengasihi antar agama. Kaum Muslim dan Kristiani sangat akur bahkan tidak sedikit yang saling kawin mawin (ada yang murtad, ada juga yang muallaf, termasuk ada juga yang saling bertahan dengan keyakinan masing-masing). Intinya, perbedaan agama tidak menjadi penghalang untuk kebersamaan. Kendati demikian, ummat Kristiani lebih dominan. Bisa dibilang perbandingannya 70-30. Setiap kelurahan pasti ada gereja, bahkan jumlahnya bisa mencapai 10. Alkisah, di lingkungan kami ada seorang muazin bersuara jelek, namanya Panjul. Ia memanggil orang shalat di daerah saudara-saudara Nasarah. Kami membujuk dia untuk tidak menjeritkan—maaf, maksudnya, melantunkan—azan. Kami khawatir, suara itu akan mengganggu orang-orang Kristen. Mereka akan keberatan. Bisa-bisa azan itu akan memicu kerusuhan sosial (Sara). Panjul menolak bujukan kami. Ia marah dan mengira kami melarangnya menegakkan sunnah Rasulul...

Mr. Takabbur

Aku tidak mau menerima kebenaran jika yang menyampaikan kebenaran itu rakyat kecil, orang miskin, bawahan atau pegawai. Aku tidak mau mendengar nasihat dari anak atau istriku karena aku menganggap mereka lebih rendah dariku. Aku tidak mau mendengar pembicaraan dari orang Islam yang pahamnya berbeda denganku karena aku menganggap mereka sesat dan aku berada di jalan yang paling benar. Karena aku mempunyai hubungan dekat dengan orang besar, aku ingin diperlakukan sebagai orang istimewa dan hukum apa pun tidak boleh berlaku untukku. Karena aku merasa lebih berilmu, Aku meremehkan orang yang Aku anggap bodoh. Aku ancam mereka. Aku tertawakan kejahilan mereka. Kalau ilmuku itu ilmu agama, Aku berikan gelar-gelar yang buruk kepada orang yang Aku pandang tidak sepaham denganku. Aku khususkan surga untuk kelompokku dan neraka untuk kelompok lain. Aku sahkan semua ibadahku dan aku batalkan ibadah yang lain. Karena aku ahli ibadah, aku merasa diriku yang paling sahih di antara seluruh makhluk di...

MIMPI BURUK TENTANG NEGERIKU

Saat menulis catatan ini, saya baru saja terbangun dari ‘galau’nya tidur. Saya mimpi buruk. Buruk sekali. Bukan bertemu hantu, juga bukan mimpi ditagih hutang oleh perusahaan finance. Kali ini mimpi buruk tentang negeriku. Iya, negeriku Indonesia. Dalam mimpi ini, digambarkan bahwa rezim paling represif di Indonesia baru saja menjadi semakin represif. Pemerintah mengumumkan peraturan administratif yang sangat ketat. Peraturan-peraturan baru ini membatasi informasi, komunikasi dan kebebasan berpendapat, dari yang sangat kecil menjadi hampir nol. Secara umum, mengakses internet dibatasi pada malam hari saja.  Semua buku dilarang terbit, kecuali terbitan pemerintah dan kitab suci agama. Ini adalah serangan besar-besaran terhadap pemikiran. Surat kabar yang terbit harus berafiliasi dengan pemerintah. Tujuannya adalah untuk menahan aliran informasi dari pihak-pihak yang kritis. Padahal, suratkabar merupakan sumber informasi terkini yang penting, terutama karena hanya penguasalah yang da...

MENOLAK DISEBUT LIBERAL, TAK MAU DIPANGGIL RADIKAL.

Di rumah, Saya kedatangan tamu special asal Surabaya. Ia teman lawas, yang pernah sama-sama duduk di bangku SMA. Jujur, ini kali pertama kami bertemu setelah 12 tahun berpisah. (Kok bisa? Bukankah lulus SMA belum cukup 10 tahun? Bagaimana mungkin terpisah pasca sekolah 12 tahun lamanya?) Terus, apa hubungannya dengan judul postingan Tak mau dipanggil liberal dan tak suka disebut radikal? Postingan ini akan diseriusi atau karena mata telah berada pada kekuatan watt yang rendah, sehingga akal pun terganggu? Published with Blogger-droid v2.0.4

Aku Ini Orang Kampung

(Sebuah Derita TKI di Negeri Saudi) Aku ini orang kampung. Aku tidak mengerti agama. Dari pak Kiai di kampung, aku belajar ngaji, shalat, puasa, dan wirid. Aku sekeluarga berusaha mengabdi kepada Allah dengan cara orang awam; tetapi kami kepingin ibadat yang kami lakukan diterima Tuhan. Aku juga mencintai Nabi Muhammad saw. Aku tidak tahu banyak tentang beliau; tapi aku kepingin beliau memberikan syafaatnya kepadaku nanti. Untuk itu aku selalu mengamalkan shalawat dan bertawassul serta mengajarkannya kepada anak-anakku. Kalau menyebut nama Nabi, aku teringat Makkah dan Madinah. Aku kepingin betul naik haji dan berziarah ke makam beliau. Aku dengar negeri Arab itu penuh berkah. Di situ ada tanah suci, tempat berkumpulnya orang suci, yang melakukan amal-amal suci. Kalau aku ingat Ka’bah, air mata meleleh. Aku ingin mencium Hajar Aswad, tapi aku orang yang tidak mampu. Jika segala harta yang kumiliki termasuk harta keluargaku – ayah, kakek dan saudara-saudaraku – dijual, tetap tidak cukup...

Belajar Dari Negri Arab

Pemimpin negara Libia, Muammar Kadhafi, yang sudah menguasai negara yang kaya dengan minyak dan gas selama 42 tahun ini, akan merupakan sasaran berikutnya dari pembrontakan rakyat Arab sesudah jatuhnya presiden Tunisia, Ben Ali, dan presiden Mesir Husni Mubarak. Tetapi, berlainan dengan di Tunisia dan Mesir, kejatuhan Kadhafi akan disertai dengan terbunuhnya korban yang jumlahnya jauh lebih banyak dan cara-caranya yang jauh lebih biadab. Kalau kita membaca kitab-kita Sejarah Arab, dalam konteks kepemimpinan, dapat kita simpulkan bahwa para Khalifah pasca Nabi Muhammad mengalami masa yang begitu sulit; Abubakar di bunuh oleh musuhnya. Umar Bin Katab juga terbunuh. Usman mengalami nasib yang sama. Ali sebagai khalifah ke empat dan keluarganya juga terbunuh. Lanjut, jika kita perhatikan raja-raja sekarang ini yang berkuasa naik takhta dengan membunuh pemimpin sebelumnya. Gadhafi naik takhta dengan terbunuhnya pimpinan sebelumnya. Husni Mubarak naik takhta, juga terbunuhnya Anwar Sadat. Ki...

“TEMPAT” BUAT ORANG KECIL

Oleh : Taufik bill Fagih* Januari adalah bulan yang paling awal disetiap tahun. Banyak orang yang mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut Januari, apalagi pada tanggal 1 (yang sering kita sebut tahun baru). Tahun baru dipestakan, dimeriahkan, direfleksikan bahkan dijadikan moment untuk menghambur-hamburkan uang demi (ke)besar(an)nya. Berita-berita dalam surat kabar dan televisi berkisar umumnya tentang pesta tahun baru; begitu pula komentar para pejabat, artis dan penulis opini. Sebuah berita kecil, masih tentang tahun baru, muncul tanpa komentar. Di kota kecil Tarakan, seorang pengusaha kecil – kita menyebutnya PKL (pedagang kaki lima) – yang juga pelajar, dirampok segerombolan preman yang akhirnya menusuk hingga menghabisi nyawa pengusaha kecil tersebut. PKL ini, masih tergolong kecil, berusia 15 tahun, sebagai pelajar di Sekolah Teknik. Pada waktu libur atau waktu di luar jam pelajarannya, ia mencari nafkah untuk membiayai sekolahnya. Kabarnya, ia tinggal di rumah saudaranya, k...