Langsung ke konten utama

Postingan

Dukung Idenya, Jangan Orangnya !

Dalam sebuah perjalan kecil dengan tokoh intelektual Sulut, DR. dr. Taufiq Pasiak , selama di mobil, Saya mencicipi hidangan pembicaraan yang beliau bawakan. Pastinya, banyak hal menarik dari gagasan Sang dokter. Saya sedang tidak konsultasi kesehatan. Kebetulan kami berdua sedang menuju undangan open house salah seorang pejabat polisi Sulawesi Utara. Pernyataan-pernyataan penting dokter yang saya garis bawahi diantaranya adalah bagaimana menjadi pribadi yang tidak mendukung atau berpihak kepada orang lain. Jatuhkan keberpihakan kita kepada ide atau gagasan milik orang. Setiap orang memiliki ide yang perlu kita apresiasi. Ide pun akan terus berkelanjutan. Sementara orang (empunya ide) itu akan terbatas pada usia dan masanya. Kita bisa saja menolak pribadi Said Aqil Siradj, Ulil Abshar Abdala, Rizieq Shihab, dan semua orang yang kita anggap "buruk". Namun, faktanya setiap orang punya gagasan-gagasan positif kemudian sangat berkesesuaian dengan kehidupan pribadi kita. Kita ...

Humanisasi atau Dehumanisasi ?

Di sebuah ruas jalan, seorang remaja berseragam mengayun-ayunkan senjata tajam dan menusuk perut pemuda lainnya ketika dua kelompok pelajar “berpesta” tawuran. Orang terpana, mengapa si pelaku tak cukup dengan memukul atau melempar batu saja? Mengapa dia (si korban) harus dibunuh? Bukankah pembunuhan itu tak perlu sama sekali? Di sebuah sudut jalan lainnya, seorang pelaku kriminal dibantingkan kepalanya di aspal, setelah digebuki. Orang heran, mengapa polisi tega menyiksa orang yang baru dikenalnya. Bukankah orang itu tak pernah berbuat sesuatu yang menyakitkan polisi tersebut? Di manca-negara, seorang pejabat keduataan Amerika dibantai oleh sekelompok demonstran yang tersinggung karena pemimpin mereka dihina oleh salah seorang berkebangsaan Amerika. Orang kebingungan. Kenapa para demonstran tidak hanya melakukan orasi mengutuk penghinaan itu, justru mengambil nyawa orang yang sesungguhnya bukan pelaku pelecehan? Mengapa manusia dengan tangan dingin menyiksa sesama manusia tanpa ...

Buku Untuk Aba

Selamat Hari Ulang Tahun ke 57 Aba... Anakmu hanya bisa memberikan hadiah buku ringan. Teruslah mengajak kedamaian melalui ayat-ayat Tuhan. ========= Jadilah pembimbing kami hingga akhir hayat. Anakmu mungkin tak kuasa mengikuti jejak langkahmu. Namun, akan ku sampaikan kepada generasi yang akan datang, Bahwa, Engkau pernah hadir memberi warna hidup ini menjadi indah. ============ Terima Kasih atas ajaran cinta damai yang pernah kau torehkan untuk kami ... ! Terimalah persembahan buku Dialog Antarumat Beragama terbitan Mizan ini... Anakmu, terus mencintaimu ... !

Sungai, Air, Semen dan Mas Yus

Dikampung Saya, air sungai adalah sumber kehidupan. Kami minum, makan, mandi, cuci pakaian dan lain sebagainya, memanfaatkan sungai.  Sekarang, ketika air galon yang komersil itu hadir, kami merasa 'jijik' untuk meminum air sungai.  Dengan ini, kami menghina keberadaan sungai. Ia pun merajuk...  Syafieq Bill Mas Yus, yang menghadap kesini. Saya kesana. “Masalahnya begini, Bill . Tanah kita sudah dipenuhi semen (baca; bangunan) . Ketika hujan turun, air tidak lagi menyerap ke tanah . Ia mengalir . Berkumpul bersama teman - temannya yang bergerak mencari titik rendah . Sungai biasanya menjadi jalur perjalanan mereka . Kondisi sungai yang tak kuasa menampung air hujan itu, menyebabkan terjadinya arus deras dan akhirnya ia kembali ke atas semen tadi . Gabungan air hujan dan sungai inilah yang kita sebut, banjir . ” Saya asyik mendengar ‘ceramah’ Romo Yustinus Sapto Hardjanto . Sudah lama tak...

Benarkah Masa Lalu Menentukan Masa Kini ?

Selama ada perbedaan, konflik begitu menganga...  Jika toh ia terjadi, pastikan kita mengelolanya agar bisa menemukan kebaikan di dalamnya. Tapi, sebaik-baiknya, tidak ada konflik. Syafieq Bill "Sejak dulu, konflik agama sudah ada. Tak perlu lagi dipersoalkan. Mau diapakan lagi, tetap saja jika ada perbedaan, konflikpun tak terhindarkan." Kurang lebih begitu kawan saya berujar. Ia telah memvonis kenyataan sejarah memang selalu ada. Apa yang telah terlihat pada sejarah, maka ia akan terus begitu. Kawan tersebut sudah terbiasa menganggap masalah sosial yang terjadi hari ini memang sebuah keniscaayan yang tak bisa diganggu gugat. Tidak sedikit diantara kita berada pada cara pandang seperti kawan Saya itu. Setiap kondisi yang terjadi sekarang merupakan implementasi dari peristiwa masa lalu. Orang seperti ini menjadikan sejarah sebagai biang persoalan masa kini dan yang akan datang. Melihat kebelakang adalah sasaran empuk untuk menjawab setiap keadaan yang ada. Dari si...

Kebiasaan Mengeneralisir, Berujung Konflik

Suatu ketika, dalam diskusi ringan, kawan saya berujar "Di era digital ini, masyarakat kita harus menerima perkembangan zaman. Saya tidak setuju bahwa media sosial itu akan berpengaruh terhadap kebiasaan buruk seseorang. Buktinya saya, hingga saat ini tidak terpengaruh efek negatif medsos." Kawan saya ini nampaknya ingin menyamakan kepribadian orang lain dengan dirinya. Menurutnya, medsos adalah sesuatu yang positif. Semua orang berhak dan pasti dapat memanfaatkan medsos dengan  baik. Ia adalah seorang akademisi. Beberapa bulan lagi meraih gelar doktornya. Kendati dia jauh lebih muda dari saya, harus saya akui, ia orang yang tekun didunia pendidikan formal. Sayang, ia terjebak pada kekeliruan berpikir. Calon doktor ini mencoba mengeneralisir keadaan. Seolah semua orang punya pikiran dan sikap yang sama dengannya. Ia lupa, ada orang menggunakan medsos dengan bijak dan bajik, tetapi ada yang sedang memanfaatkan medsos demi agenda jahatnya. Ada pula yang bermaksud menikmat...

Lampu Botol, Merawat Tradisi Melawan Kolonialisasi

"Besok, Kamu pergi ke pasar, cari pedagang yang menjual lampu botol. Beli 5 buah ya !" Perintah Ibu kepadaku.  "Memangnya, buat apa lampu botol itu, Ibu?"  "Loh, ini kan sudah akhir Ramdhan. Sudah menjadi tradisi keluarga kita sejak dulu untuk menyalakan lampu botol diakhir Ramdhan." Ibu menjelaskan. Karena masih penasaran, Aku terus mengejar dengan pertanyaan. "Boleh Ibu jelaskan, mengapa tradisi ini harus ada?" "Nak, Ibu tidak tahu persis dengan makna hakikinya. Ibu hanya pernah dijelaskan singkat oleh kakekmu. Menurutnya, lampu botol ini bermakna untuk menyambut lailatul qadar. Karena dulu tidak ada listrik. Sementara untuk menyambut malam ganjil yang special itu, masyarakat harus menerangi rumah dan lingkungannya. Selain itu, masih menurut kakekmu, lampu botol ini dipasang karena banyak masyarakat yang akan membagikan zakat fitrah setelah Tarawih. Jadi butuh penerangan." Terang Ibu. Aku masih belum puas d...