Langsung ke konten utama

Malaysia itu “BONEKA KOLONIALIS BUATAN BARAT”?


Malaysia itu apa? Malaysia itu satu neocolonialist project. Neocolonialist project. Neo atau bukan neo, ini adalah satu colonialist project. Dus, harus kita tentang, Malaysia as such.
(Soekarno, dalam Pidato Politiknya)

Di media. Baik cetak maupun elektronik, sedang ramai memberitakan tentang sikap anti Malaysia yang dilakukan oleh komunitas-komunitas, mungkin bisa dikatakan sebagai ‘nasionalis’ dan ‘patriotik’-nya bangsa Indonesia. Mereka tidak ingin negaranya di(obok-obok) oleh negeri “kecil” itu.


Tindakan para nasionalis tersebut, mengingatkan saya pada sosok Bung Karno. Dialah satu-satunya presiden Indonesia yang dengan tegas melakukan perlawanan atas (di)hadir(kan)-nya negeri Jiran itu. Bung karno di ketahui memiliki sifat yang kukuh, tegas, dan berani mengambil keputusan dengan menanggung resiko apapun yang diakibatkannya. Ia juga teguh dalam membela prinsip yang dianggapnya benar dan harus diperjuangkan. Keteguhan dalam kebijakan “ganyang Malaysia”, mempertahankan konsep NASAKOM (Nasionalis, Agamis dan Komunis), perjuangannya menentang segala bentuk penjajahan, khususnya NEKOLIM (NeoKolonialisme-Imprealisme) semua sudah kita ketahui bersama.

Seperti yang sudah kita mafhum, pada tahun 1963, hubungan Indonesia dengan Negara-negara Barat terus memburuk, terutama karena kelahiran Malaysia yang dicurigai Bung Karno sebagai “boneka Nekolim” untuk melawan Indonesia. Bung Karno-pun melakukan politik konfrontasi untuk menghancurkan Malaysia. Untuk mendukung dan melaksanakan kebijakannya, ia membentuk KOGAM, Komando Ganyang Malaysia, yang dipimpin oleh dirinya sendiri.

Tema “Ganyang Malaysia” ia kobarkan di setiap sanubari rakyat Indonesia dari Sabang sampai Marauke. Bahkan, ketika kekuasaannya terus dipreteli oleh Angkatan Darat pasca G30-S/PKI, obsesi Bung Karno untuk manghancurkan Malaysia tetap menggebu-gebu. Nyaris disetiap pidatonya, Bung Karno selalu menyinggung politik konfrontasinya itu dengan tujuan untuk membakar terus semangat, sekaligus meminta dukungan rakyat Indonesia.

Dalam beberapa sumber menyebutkan, masalah Malaysia dipaparkan lebih detail oleh Bung Karno ketika melantik Kabinet Ampera. Di hadapan para Menteri Utama dan Menteri yang baru diangkat, juga di hadapan sejumlah Duta Besar negara sahabat, Bung Karno dengan suara keras menandaskan:

“Kalimat pertama daripada Mukaddimahnya UUD 1945 itu sudah mengatakan artinya, bahwa kita harus mengutuk , membersihkan, menghabisi kolonialisme dari muka bumi ini. Jadi saya gembira bahwa Kabinet Ampera harus berprogram demiklian. Di dalam picture inilah saudara-saudara, maka saya sekarang meberitahu kepada saudara-saudara, bahwa memang politik saya juga di dalam Malaysia, jelas, adalah satu politik terus menghantam kepada imprealisme dan kolonialisme. Sudah saya jelaskan berulang-ulang Malaysia itu apa? Malaysia itu satu neocolonialist project. Neocolonialist project. Neo atau bukan neo, ini adalah satu colonialist project. Dus, harus kita tentang, Malaysia as such.

Duta Besar-Duta Besar, please keep in mind. Malaysia as such is a new colonialist project. Nah, itu harus kita tentang! Saya tidak menentang atau kita tidak menentang rakyat Malaysia, tidak! Tidak menentak rakyat Singapura, tidak! Tidak menentang rakyat Sabah, tidak! Tidak menentang rakyat Serawak, tidak! Tidak menentang rakyat Brunei, tidak! Tidak sama sekali, tidak! Tetapi yang kita tentang Malaysia as such being a new colonialist project!”

Hari ini, kita tidak menemukan kepala Negara yang memiliki semangat seperti Bung Karno tersebut. Hari ini, Malaysia sangat jelas melakukan provokasi terhadap Indonesia, mulai dari persoalan kebudayaan hingga wilayah teritorial Indonesia yang coba di utak-atik oleh Malaysia. Belum lama, Indonesia dilecehkan oleh sikap negeri jiran yang akan membarter pejabat negeri ini dengan maling ikan asal negeri "Siti Nurhaliza itu. Sungguh memilukan.

Para nasionalis adalah sekelompok anak bangsa yang akan meneruskan perjuangan funding father-nya terdahulu. Kecurigaan Bung Karno kini telah terbukti, Malaysia kini benar-benar menjadi ‘monster Melayu’ yang siap memakan Indonesia.

Pertanyaannya, ada apa di balik semua ini? Bagaimana seharusnya tindakan Pemerintah kita? Dan Kita, apa yang harus dilakukan? Tolong, bagi kawan-kawan yang memiliki data, informasi, tawaran, atau apa saja yang bisa dijadikan pedoman bagi kita sebagai komponen bangsa dalam menyikapi persoalan ini, mohon di beri info. Semoga bermanfaat!

Terakhir, karena sedang menjalani ibadah puasa, dan lemes, sampai di sini aja. Selamat menunaikan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan 143? H. semoga selamat sampai tujuan. Baraqallah…



Postingan populer dari blog ini

Kebiasaan Mengeneralisir, Berujung Konflik

Suatu ketika, dalam diskusi ringan, kawan saya berujar "Di era digital ini, masyarakat kita harus menerima perkembangan zaman. Saya tidak setuju bahwa media sosial itu akan berpengaruh terhadap kebiasaan buruk seseorang. Buktinya saya, hingga saat ini tidak terpengaruh efek negatif medsos." Kawan saya ini nampaknya ingin menyamakan kepribadian orang lain dengan dirinya. Menurutnya, medsos adalah sesuatu yang positif. Semua orang berhak dan pasti dapat memanfaatkan medsos dengan  baik. Ia adalah seorang akademisi. Beberapa bulan lagi meraih gelar doktornya. Kendati dia jauh lebih muda dari saya, harus saya akui, ia orang yang tekun didunia pendidikan formal. Sayang, ia terjebak pada kekeliruan berpikir. Calon doktor ini mencoba mengeneralisir keadaan. Seolah semua orang punya pikiran dan sikap yang sama dengannya. Ia lupa, ada orang menggunakan medsos dengan bijak dan bajik, tetapi ada yang sedang memanfaatkan medsos demi agenda jahatnya. Ada pula yang bermaksud menikmat...

Cinta, Toleransi dan Tou Minahasa

Suatu ketika, saya bersama istri yang sedang hamil besar, mengalami pecah ban motor.    Saat itu kami sedang menuju ke kampung halaman setelah beberapa minggu berada di Kota. Tidak tahu apa penyebab dari insiden kecil itu. Segera, kami kemudian melanjutkan perjalanan. Dari belakang istri mengikuti, dan saya mendorong motor tersebut. Peristiwa ini di malam hari. Rute jalan pun berliku dan menemui tanjakan yang tinggi. Sesekali melihat helaan nafas sang istri yang berbadan besar, saya merasa kasihan. Di saat yang sama, istri pun merasa iba dengan keadaan saya yang harus mendorong motor. Kami larut dalam saling mengasihani, ditambah kemelut cinta yang terus terukir. Gelapnya perjalanan, semakin menyeramkan karena berada di tengah hutan tanpa terlihat satupun cahaya rumah warga. Terkadang, suara malam yang ditimbulkan oleh hewan-hewan dan tumbuh-tumbuhan membuat istri tak kuasa menjauh jarak. Wah, beban saya tidak hanya mendorong motor, kali ini harus menanggung beratnya ...

Lampu Botol, Merawat Tradisi Melawan Kolonialisasi

"Besok, Kamu pergi ke pasar, cari pedagang yang menjual lampu botol. Beli 5 buah ya !" Perintah Ibu kepadaku.  "Memangnya, buat apa lampu botol itu, Ibu?"  "Loh, ini kan sudah akhir Ramdhan. Sudah menjadi tradisi keluarga kita sejak dulu untuk menyalakan lampu botol diakhir Ramdhan." Ibu menjelaskan. Karena masih penasaran, Aku terus mengejar dengan pertanyaan. "Boleh Ibu jelaskan, mengapa tradisi ini harus ada?" "Nak, Ibu tidak tahu persis dengan makna hakikinya. Ibu hanya pernah dijelaskan singkat oleh kakekmu. Menurutnya, lampu botol ini bermakna untuk menyambut lailatul qadar. Karena dulu tidak ada listrik. Sementara untuk menyambut malam ganjil yang special itu, masyarakat harus menerangi rumah dan lingkungannya. Selain itu, masih menurut kakekmu, lampu botol ini dipasang karena banyak masyarakat yang akan membagikan zakat fitrah setelah Tarawih. Jadi butuh penerangan." Terang Ibu. Aku masih belum puas d...