Langsung ke konten utama

Quantum Learning... !

Semasa menjadi kepala sekolah di SMA Alhikam, Desa Tumbak Kec. Pusomaen Kab. Minahasa Tenggara, Aku punya murid paling berandal. Hampir setiap hari malas sekolah dan pekerjaannya mengganggu orang lain. Bahkan tercatat beberapa kali berkelahi. 

Dia perokok. Tapi Aku belum pernah tahu dan apalagi melihat ia minum minuman beralkohol. Jika toh ia pernah mabuk-mabukan, Aku yakin itu tidak dilakukan saat sekolah. Namun merokok, adalah pemandangan yang sering ku lihat saat ia masih berseragam. 

Suatu ketika, di belakang gedung sekolah, ia dan teman-temannya sedang asik menikmati gumpalan asap rokok. Aku meradang. Rasa-rasanya ingin ku gampar satu persatu, terutama si berandal itu. Tapi Aku khawatir. Bertindak, harus dengan pikiran jernih. Mereka semua siswa yang secara fisik dan mental teruji bertindak anarkis. Bukannya takut, Aku hanya tidak ingin ada berita beredar, guru pukul murid, murid pukul guru, guru murid baku pukul. Jelasnya, Aku pasti kalah. Mereka gerombolan soalnya.

Aku bergabung. Mendadak mereka membuang puntungan rokok. Tangan mereka dijepit di selangkangan. Kepala sembari merunduk. Entah ketakutan atau kepura-puraan. Aku tak banyak bicara. Duduk di samping si Berandal, sembari meminta sebatang rokok padanya. Dengan gugup, ia mengeluarkan rokok dari kantong celana. Sembari, ia menyalakan korek api dan dibakarkan ke rokok yang sudah kujepit di bibir. 

Pembahasan dimulai.

"Lain kali, kalau kalian merokok, jangan gunakan seragam sekolah. Terus jauh lebih baik di dalam rumah. Kemudian, pastikan kalian sudah sarapan. Kasihan perut kosong, tapi udah nikmati asap." Ujarku

"Iya, Kep..." serentak mereka menjawab.

"Ini uang, beli rokok. Jangan pakai uang kalian. Kasihan orang tua sudah kerja keras, buat biaya sekolah, kalian justru menghamburnya untuk membeli rokok. Tapi ingat, jangan merokok saat jam sekolah. Ini bukan soal benar atau salah, kalian akan dinilai buruk oleh banyak orang." Tambahku.

Suasana tenang. Aku mulai mengajak mereka bercanda. Si berandal pun mendadak cerewet dengan bercerita lawakan. Semua terbahak, tanpa asap rokok, kecuali yang keluar dari mulutku. 

Di Manado, Aku terkejut. Heran tak percaya. Seorang guru Agama menegur muridnya yang asik merokok. Si Murid justru membalas teguran itu dengan 9 tikaman badik di tubuh Sang Guru hingga akhirnya meninggal dunia. Video pembunuhan itu beredar luas. Semua orang mengutuknya, sedih bahkan tak menyangka. 

Lepas dari latar yang lebih jauh, tindakan siswa tersebut benar-benar tak bisa ditolerir. Ini harus menjadi evaluasi bersama. Keluarga, sekolah, elemen masyarakat dan utamanya pemerintah harus ikut terlibat memikirkan dan bertindak agar generasi biadap seperti ini tidak lagi muncul. 

Sekolah, tidak lagi menjadi tempat yang menyeramkan. Siswa-siswa harus diajak bahagia. Pemerintah dan jajaran sekolah mesti mempelajari latar belakang keluarga murid. Diantara mereka banyak yang mengalami depresi dari rumah. Sebagian mereka ada yang tak berdaya sejak dari rumah. Orang tua mereka gagal mendidik bahkan justru memperlihatkan potret yang buruk. 

Kepala sekolah harus tahu itu. Sehingga kuasa menciptakan metode pendidikan untuk siswa-siswa yang lebih membahagiakan. Bobby DePorter, Eric Jensen dan Greg Simmons sejak lama meramu pendekatan keterampilan dasar untuk membentuk siswa yang baik; keterampilan akademis, prestasi fisik dan keterampilan hidup. Bagi mereka, belajar adalah proyek sepanjang hayat yang dapat dilakukan orang dengan penuh ceria dan sukses. Harga diri yang tinggi adalah unsur pokok dalam membentuk pelajar yang sehat dan bahagia. 

Berdasarkan pikiran DePorter cs, Aku pun lebih banyak mengajak murid-murid untuk belajar di hutan, pantai, laut dan tempat-tempat asik serta menyenangkan. Jika toh diantara mereka masih ada yang berandal, tak satupun berani membentak dan apalagi bertindak anarkis terhadapku dan guru-guru lainnya. 

Inilah yang disebut DePorter dengan istilah Quantum Learning. Loncatan manusia untuk berkembang melampaui potensi yang ada melalui pendidikan. Setiap murid harus terdidik untuk memadu tubuh dan jiwa, mereka harus menyadari adanya kemampuan yang hampir tidak ada batasnya, dan terakhir para siswa harus mendapatkan dimensi mistikal, baik melalui agama maupun kepercayaan tertentu. Begitu Quantum Learning bekerja.

Kini, Sang Guru telah pergi. Pahlawan tanpa tanda jasa ini gugur di tangan muridnya sendiri. Tak perlu cari kambing hitam terkait masalah demikian. Kita berharap penuh kepada pihak yang berwenang untuk melakukan yang terbaik. Aku sedih dan berduka. Sebagai guru, mantan kepsek, dosen, serta mahasiswa program doktor yang mengambil jurusan manajemen pendidikan dan sebagai santri terhadap guru-guruku, sungguh, Aku sedih melihat video pembunuhan itu. Apalagi, ia viral di hari Santri Nasional. Di mana semua murid sepantasnya mengenang jasa guru dan berbuat baik atas fatwa-fatwa jihad sang Guru.


Tapi Aku bahagia, muridku yang berandal bersama teman-temannya, tak sedetikpun memperlihatkan wajah membeci saat ku hukum. Mereka tunduk dan selalu merasa bersalah. Baiknya lagi, si berandal tak pernah ku dengar dan lihat merokok saat sekolah. 


Aku rindu kalian, dik 😥


#KisahSangKepsek

Postingan populer dari blog ini

Kebiasaan Mengeneralisir, Berujung Konflik

Suatu ketika, dalam diskusi ringan, kawan saya berujar "Di era digital ini, masyarakat kita harus menerima perkembangan zaman. Saya tidak setuju bahwa media sosial itu akan berpengaruh terhadap kebiasaan buruk seseorang. Buktinya saya, hingga saat ini tidak terpengaruh efek negatif medsos." Kawan saya ini nampaknya ingin menyamakan kepribadian orang lain dengan dirinya. Menurutnya, medsos adalah sesuatu yang positif. Semua orang berhak dan pasti dapat memanfaatkan medsos dengan  baik. Ia adalah seorang akademisi. Beberapa bulan lagi meraih gelar doktornya. Kendati dia jauh lebih muda dari saya, harus saya akui, ia orang yang tekun didunia pendidikan formal. Sayang, ia terjebak pada kekeliruan berpikir. Calon doktor ini mencoba mengeneralisir keadaan. Seolah semua orang punya pikiran dan sikap yang sama dengannya. Ia lupa, ada orang menggunakan medsos dengan bijak dan bajik, tetapi ada yang sedang memanfaatkan medsos demi agenda jahatnya. Ada pula yang bermaksud menikmat...

Cinta, Toleransi dan Tou Minahasa

Suatu ketika, saya bersama istri yang sedang hamil besar, mengalami pecah ban motor.    Saat itu kami sedang menuju ke kampung halaman setelah beberapa minggu berada di Kota. Tidak tahu apa penyebab dari insiden kecil itu. Segera, kami kemudian melanjutkan perjalanan. Dari belakang istri mengikuti, dan saya mendorong motor tersebut. Peristiwa ini di malam hari. Rute jalan pun berliku dan menemui tanjakan yang tinggi. Sesekali melihat helaan nafas sang istri yang berbadan besar, saya merasa kasihan. Di saat yang sama, istri pun merasa iba dengan keadaan saya yang harus mendorong motor. Kami larut dalam saling mengasihani, ditambah kemelut cinta yang terus terukir. Gelapnya perjalanan, semakin menyeramkan karena berada di tengah hutan tanpa terlihat satupun cahaya rumah warga. Terkadang, suara malam yang ditimbulkan oleh hewan-hewan dan tumbuh-tumbuhan membuat istri tak kuasa menjauh jarak. Wah, beban saya tidak hanya mendorong motor, kali ini harus menanggung beratnya ...