Langsung ke konten utama

Postingan

Dari Pencerahan Menuju Pergerakan Sebagai Upaya Revitalisasi Diri Menuju Pribadi Rahmatan Lil ‘Alamin (Refleksi Awal Tahun)*

Oleh: Taufik Bilfagih, S. Sos. I ** Nabi Muhammad, dalam proses perjuangannya, melakukan Hijrah dari Mekah menuju Madinah yang merupakan simbol babak baru. Selama 3 hari beliau bersembunyi di Gua Saur ditemani Abu Bakar setelah lolos dari kepungan kaum Quraisy di rumahnya. Dengan ketabahan, setelah merasa aman, Nabi dan Abu Bakar melanjutkan perjalanan sangat meletihkan, menempuh panas yang membakar, mengarungi lautan pasir berbukit-bukit, berkeringat deras hingga kehausan. Demikian menurut pendapat sebagian ulama dalam menggambarkan situasi perjalanan Sayyidul Wujud Muhammad Saw. Hijrah yang dilakukan Nabi merupakan instruksi langsung dari Allah. Bukan karena takut terhadap siksaan dan ancaman, bahkan karena ke-putusasa-an Nabi dalam berdakwah di Makkah. Tidak takut karena ancaman maupun siksaan melainkan kepekaan Nabi terhadap sahabat-sahabat kesayangannya yang selalu mendapat perlakuan keji kaum Quraisy. Semangat sosial inilah yang menginspirasi beliau dengan memulai strategi perj...

Malaysia itu “BONEKA KOLONIALIS BUATAN BARAT”?

Malaysia itu apa? Malaysia itu satu neocolonialist project. Neocolonialist project. Neo atau bukan neo, ini adalah satu colonialist project. Dus, harus kita tentang, Malaysia as such. (Soekarno, dalam Pidato Politiknya) Di media. Baik cetak maupun elektronik, sedang ramai memberitakan tentang sikap anti Malaysia yang dilakukan oleh komunitas-komunitas, mungkin bisa dikatakan sebagai ‘nasionalis’ dan ‘patriotik’-nya bangsa Indonesia. Mereka tidak ingin negaranya di(obok-obok) oleh negeri “kecil” itu. Tindakan para nasionalis tersebut, mengingatkan saya pada sosok Bung Karno. Dialah satu-satunya presiden Indonesia yang dengan tegas melakukan perlawanan atas (di)hadir(kan)-nya negeri Jiran itu. Bung karno di ketahui memiliki sifat yang kukuh, tegas, dan berani mengambil keputusan dengan menanggung resiko apapun yang diakibatkannya. Ia juga teguh dalam membela prinsip yang dianggapnya benar dan harus diperjuangkan. Keteguhan dalam kebijakan “ganyang Malaysia”, mempertahankan konsep NASAKO...

Keracunan Ilmu

Pernah membaca novel best seller karya Andrea Hirata, Laskar pelangi? Atau menonton versi filmnya? Bagaimana tanggapan anda? Pasti terkesan. Pembaca atau penonton Laskar Pelangi semacam mendapat ‘sihir’ Andrea Hirata. Bahkan salah satu pembacanya pernah berucap “Perjuangan Andrea, patut dijadikan contoh buat anak-anak sekarang. Dengan sarana dan pra-sarana apa adanya Andrea bisa menamatkan SD, SMP, SMA-nya di Pulau Belitong, dan kemudian melanjutkan di bangku universitas. Dan akhirnya menyelesaikan S2-nya di Prancis. Sehingga bekerja di BUMN, PT TELKOM, sebagai seorang instruktur.” (chanleo19, Bandung). Nurhady Sirimorok, dalam bukunya Laskar Pemimpi; Andrea Hirata, Pembacanya dan Modernisasi Indonesia, menganalisa komentar chanleo19 di atas, bahwa; seolah Pendidikan yang terbaik adalah sekolah formal, dan itu harus sampai S2. Dan sebaik-baik S2 adalah S2 di luar negeri, dan sebaik-baik luar negeri adalah Eropa. Setelah itu tentu saja pekerjaan. Kemudian, pekerjaan yang paling dii...

BANGUNAN MEGAH DAN IMAN KECIL

Anda pernah berkunjung dan menunaikan shalat di Masjid Islamic Centre Kalimantan Timur? Jika pernah, anda pasti akan berpikir sama denganku, bahwa Masjid tersebut memiliki struktur bangunan megah yang di hiasi dengan ukiran-ukiran kaligrafi menarik. Bagi wong deso sepertiku, melihat rumah dua tingkat saja sudah terkesima minta ampun, apalagi melihat Masjid semegah Islamic Centre yang konon menelan biaya miliyaran rupiah. Sungguh membuatku terkagum-kagum tak karuan. Di kampung, masjid yang sering kugunakan untuk ibadah hanya dengan gubuk-gubuk beratapkan dedaunan. Meski demikian, masjid tersebut membuatku bisa khusyu’ dalam menjalankan shalat. Terasa alami, sunyi, damai dan tentram seolah sedang bersua dengan Allah Sang Khalik, begitulah nikmatnya menjalankan shalat di masjid gubuk itu. Berbeda dengan dengan Masjid Islamic Centre. Terlalu ramai dan bising. Mulai dari hiasan yang ‘narsis’ hingga suara kipas angin yang berputar seolah kita berada di sebuah kapal penumpang yang akan mengan...

Lagu manca, antara ‘kafir’ dan ‘Islami’[*]

Oleh: Taufik bilfagih[†] Agak sedikit bingung untuk memahami judul tulisan saya di atas, dan mungkin sebingung saya berpikir terhadap realitas frem berpikir masyarakat (Samarinda) hari ini (yaa, nggak semualah). Tentu pemikiran yang mengganggu dan mengusik hati saya adalah mapannya sebuah paradigma berpikir masyarakat tentang mengukur baik-tidak, sesat-tidak, boleh-tidak, dan bisa tidaknya memutar lagu berbahasa Inggris di radio ‘Islami’ (dakwah). Kebetulan (sekedar informasi) saya hari ini sedang duduk sebagai penyiar salah satu radio dakwah Samarinda, Radio Darussalam FM. Radio ini milik sebuah Yayasan, yaitu Yayasan masjid raya Darussalam Samarinda di jl. KH. Abdullah Marisie. Darussalam Fm adalah radio yang sangat digemari oleh kaum muslimin setempat. Dan kebanyakan darinya adalah orang tua. Betapa tidak, program acara yang disajikan selama satu hari penuh berorientasi pada nilai-nilai ibadah (ritual), seperti ceramah dakwah, relay shalat dengan masjid, dialog interactive (wacana i...

Media dan Hegemoni oleh: Taufik Bilfagih

Globalisasi merupakan peristiwa yang paling "tersohor" pada sekitar abad 21. Bahwa dunia akan diseragamkan dan menghapus identitas dan jati diri serta kebudayaan lokal yang di "makan" oleh kekuatan global. Dan begitulah Globalisasi. Alvin Toffler menyebutnya "dunia ketiga", setelah agrikultur (dunia pertama) dan industri (dunia kedua). Pergeseran yang terjadi adalah kekuasaan dari pusat kekuasaan dengan sumbernya yakni tanah, lalu kapital (modal), dan selanjutnya penguasaan terhadap informasi (sains dan teknologi). "kejahatan dan imprealism pengetahuan" 'Hegemoni' (Antonio Gramsci) tidak hanya berkaitan dengan dominasi politik, berupa kekuatan, tetapi juga dengan dominasi budaya, melalui bahasa. Pada sistem kekuasaan yang dibutuhkan bukan hanya 'kekuatan' (senjata militer), namun yang diperlukan juga "publick consent" (penerimaan publik) yang didapat melalui mekanisme kepemimpinan kultural, begitu juga peguasaan bahasa.S...

Karena Beda Aku Dewasa

Oleh: M. Taufik Bilfagih* Pada tahun 2004, Bill menjadi seorang pemuda Kosiem (Komunitas Islam Emansipatoris). Selama empat hari, dia mengikuti pendidikan Islam Emanasipatoris dan dilatih secara intensif di Auditorium MAN Model Samarinda, di mana tempat itu adalah wadah pengkaderan komunitas Islam Emansipatoris dalam bentuk pendidikan dan pelatihan. Dia mempelajari paham agama dalam pandangan tafsir emansipatoris yang sangat kekinian (kontekstual), bentuk Islam Emansipatoris, visi dan misi Islam Emansipatoris dan gerakan serta wacana Islam Emansipatoris, semuanya diperolehnya melalui pendidikan tersebut. Dia pulang dengan membawa sertifikat dan banyak wacana ke-Islaman dari sana. Dan disaat itulah dia resmi menjadi anggota Kosiem dan harus mengamalkan apa yang menjadi visi dan misi Kosiem (Humanis, Kritis, Transpormatif dan Praksis. Red). Segera setelah kembali ke kampusnya (STAIN Samarinda), dia aktif memperjuangkan paham Islam Emansipatoris dengan mengadakan kajian setiap malam mingg...