Langsung ke konten utama

Postingan

Aku Ini Orang Kampung

(Sebuah Derita TKI di Negeri Saudi) Aku ini orang kampung. Aku tidak mengerti agama. Dari pak Kiai di kampung, aku belajar ngaji, shalat, puasa, dan wirid. Aku sekeluarga berusaha mengabdi kepada Allah dengan cara orang awam; tetapi kami kepingin ibadat yang kami lakukan diterima Tuhan. Aku juga mencintai Nabi Muhammad saw. Aku tidak tahu banyak tentang beliau; tapi aku kepingin beliau memberikan syafaatnya kepadaku nanti. Untuk itu aku selalu mengamalkan shalawat dan bertawassul serta mengajarkannya kepada anak-anakku. Kalau menyebut nama Nabi, aku teringat Makkah dan Madinah. Aku kepingin betul naik haji dan berziarah ke makam beliau. Aku dengar negeri Arab itu penuh berkah. Di situ ada tanah suci, tempat berkumpulnya orang suci, yang melakukan amal-amal suci. Kalau aku ingat Ka’bah, air mata meleleh. Aku ingin mencium Hajar Aswad, tapi aku orang yang tidak mampu. Jika segala harta yang kumiliki termasuk harta keluargaku – ayah, kakek dan saudara-saudaraku – dijual, tetap tidak cukup...

Belajar Dari Negri Arab

Pemimpin negara Libia, Muammar Kadhafi, yang sudah menguasai negara yang kaya dengan minyak dan gas selama 42 tahun ini, akan merupakan sasaran berikutnya dari pembrontakan rakyat Arab sesudah jatuhnya presiden Tunisia, Ben Ali, dan presiden Mesir Husni Mubarak. Tetapi, berlainan dengan di Tunisia dan Mesir, kejatuhan Kadhafi akan disertai dengan terbunuhnya korban yang jumlahnya jauh lebih banyak dan cara-caranya yang jauh lebih biadab. Kalau kita membaca kitab-kita Sejarah Arab, dalam konteks kepemimpinan, dapat kita simpulkan bahwa para Khalifah pasca Nabi Muhammad mengalami masa yang begitu sulit; Abubakar di bunuh oleh musuhnya. Umar Bin Katab juga terbunuh. Usman mengalami nasib yang sama. Ali sebagai khalifah ke empat dan keluarganya juga terbunuh. Lanjut, jika kita perhatikan raja-raja sekarang ini yang berkuasa naik takhta dengan membunuh pemimpin sebelumnya. Gadhafi naik takhta dengan terbunuhnya pimpinan sebelumnya. Husni Mubarak naik takhta, juga terbunuhnya Anwar Sadat. Ki...

“TEMPAT” BUAT ORANG KECIL

Oleh : Taufik bill Fagih* Januari adalah bulan yang paling awal disetiap tahun. Banyak orang yang mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut Januari, apalagi pada tanggal 1 (yang sering kita sebut tahun baru). Tahun baru dipestakan, dimeriahkan, direfleksikan bahkan dijadikan moment untuk menghambur-hamburkan uang demi (ke)besar(an)nya. Berita-berita dalam surat kabar dan televisi berkisar umumnya tentang pesta tahun baru; begitu pula komentar para pejabat, artis dan penulis opini. Sebuah berita kecil, masih tentang tahun baru, muncul tanpa komentar. Di kota kecil Tarakan, seorang pengusaha kecil – kita menyebutnya PKL (pedagang kaki lima) – yang juga pelajar, dirampok segerombolan preman yang akhirnya menusuk hingga menghabisi nyawa pengusaha kecil tersebut. PKL ini, masih tergolong kecil, berusia 15 tahun, sebagai pelajar di Sekolah Teknik. Pada waktu libur atau waktu di luar jam pelajarannya, ia mencari nafkah untuk membiayai sekolahnya. Kabarnya, ia tinggal di rumah saudaranya, k...

Dari Pencerahan Menuju Pergerakan Sebagai Upaya Revitalisasi Diri Menuju Pribadi Rahmatan Lil ‘Alamin (Refleksi Awal Tahun)*

Oleh: Taufik Bilfagih, S. Sos. I ** Nabi Muhammad, dalam proses perjuangannya, melakukan Hijrah dari Mekah menuju Madinah yang merupakan simbol babak baru. Selama 3 hari beliau bersembunyi di Gua Saur ditemani Abu Bakar setelah lolos dari kepungan kaum Quraisy di rumahnya. Dengan ketabahan, setelah merasa aman, Nabi dan Abu Bakar melanjutkan perjalanan sangat meletihkan, menempuh panas yang membakar, mengarungi lautan pasir berbukit-bukit, berkeringat deras hingga kehausan. Demikian menurut pendapat sebagian ulama dalam menggambarkan situasi perjalanan Sayyidul Wujud Muhammad Saw. Hijrah yang dilakukan Nabi merupakan instruksi langsung dari Allah. Bukan karena takut terhadap siksaan dan ancaman, bahkan karena ke-putusasa-an Nabi dalam berdakwah di Makkah. Tidak takut karena ancaman maupun siksaan melainkan kepekaan Nabi terhadap sahabat-sahabat kesayangannya yang selalu mendapat perlakuan keji kaum Quraisy. Semangat sosial inilah yang menginspirasi beliau dengan memulai strategi perj...

Malaysia itu “BONEKA KOLONIALIS BUATAN BARAT”?

Malaysia itu apa? Malaysia itu satu neocolonialist project. Neocolonialist project. Neo atau bukan neo, ini adalah satu colonialist project. Dus, harus kita tentang, Malaysia as such. (Soekarno, dalam Pidato Politiknya) Di media. Baik cetak maupun elektronik, sedang ramai memberitakan tentang sikap anti Malaysia yang dilakukan oleh komunitas-komunitas, mungkin bisa dikatakan sebagai ‘nasionalis’ dan ‘patriotik’-nya bangsa Indonesia. Mereka tidak ingin negaranya di(obok-obok) oleh negeri “kecil” itu. Tindakan para nasionalis tersebut, mengingatkan saya pada sosok Bung Karno. Dialah satu-satunya presiden Indonesia yang dengan tegas melakukan perlawanan atas (di)hadir(kan)-nya negeri Jiran itu. Bung karno di ketahui memiliki sifat yang kukuh, tegas, dan berani mengambil keputusan dengan menanggung resiko apapun yang diakibatkannya. Ia juga teguh dalam membela prinsip yang dianggapnya benar dan harus diperjuangkan. Keteguhan dalam kebijakan “ganyang Malaysia”, mempertahankan konsep NASAKO...

Keracunan Ilmu

Pernah membaca novel best seller karya Andrea Hirata, Laskar pelangi? Atau menonton versi filmnya? Bagaimana tanggapan anda? Pasti terkesan. Pembaca atau penonton Laskar Pelangi semacam mendapat ‘sihir’ Andrea Hirata. Bahkan salah satu pembacanya pernah berucap “Perjuangan Andrea, patut dijadikan contoh buat anak-anak sekarang. Dengan sarana dan pra-sarana apa adanya Andrea bisa menamatkan SD, SMP, SMA-nya di Pulau Belitong, dan kemudian melanjutkan di bangku universitas. Dan akhirnya menyelesaikan S2-nya di Prancis. Sehingga bekerja di BUMN, PT TELKOM, sebagai seorang instruktur.” (chanleo19, Bandung). Nurhady Sirimorok, dalam bukunya Laskar Pemimpi; Andrea Hirata, Pembacanya dan Modernisasi Indonesia, menganalisa komentar chanleo19 di atas, bahwa; seolah Pendidikan yang terbaik adalah sekolah formal, dan itu harus sampai S2. Dan sebaik-baik S2 adalah S2 di luar negeri, dan sebaik-baik luar negeri adalah Eropa. Setelah itu tentu saja pekerjaan. Kemudian, pekerjaan yang paling dii...

BANGUNAN MEGAH DAN IMAN KECIL

Anda pernah berkunjung dan menunaikan shalat di Masjid Islamic Centre Kalimantan Timur? Jika pernah, anda pasti akan berpikir sama denganku, bahwa Masjid tersebut memiliki struktur bangunan megah yang di hiasi dengan ukiran-ukiran kaligrafi menarik. Bagi wong deso sepertiku, melihat rumah dua tingkat saja sudah terkesima minta ampun, apalagi melihat Masjid semegah Islamic Centre yang konon menelan biaya miliyaran rupiah. Sungguh membuatku terkagum-kagum tak karuan. Di kampung, masjid yang sering kugunakan untuk ibadah hanya dengan gubuk-gubuk beratapkan dedaunan. Meski demikian, masjid tersebut membuatku bisa khusyu’ dalam menjalankan shalat. Terasa alami, sunyi, damai dan tentram seolah sedang bersua dengan Allah Sang Khalik, begitulah nikmatnya menjalankan shalat di masjid gubuk itu. Berbeda dengan dengan Masjid Islamic Centre. Terlalu ramai dan bising. Mulai dari hiasan yang ‘narsis’ hingga suara kipas angin yang berputar seolah kita berada di sebuah kapal penumpang yang akan mengan...