Langsung ke konten utama

Postingan

Kebiasaan Mengeneralisir, Berujung Konflik

Suatu ketika, dalam diskusi ringan, kawan saya berujar "Di era digital ini, masyarakat kita harus menerima perkembangan zaman. Saya tidak setuju bahwa media sosial itu akan berpengaruh terhadap kebiasaan buruk seseorang. Buktinya saya, hingga saat ini tidak terpengaruh efek negatif medsos." Kawan saya ini nampaknya ingin menyamakan kepribadian orang lain dengan dirinya. Menurutnya, medsos adalah sesuatu yang positif. Semua orang berhak dan pasti dapat memanfaatkan medsos dengan  baik. Ia adalah seorang akademisi. Beberapa bulan lagi meraih gelar doktornya. Kendati dia jauh lebih muda dari saya, harus saya akui, ia orang yang tekun didunia pendidikan formal. Sayang, ia terjebak pada kekeliruan berpikir. Calon doktor ini mencoba mengeneralisir keadaan. Seolah semua orang punya pikiran dan sikap yang sama dengannya. Ia lupa, ada orang menggunakan medsos dengan bijak dan bajik, tetapi ada yang sedang memanfaatkan medsos demi agenda jahatnya. Ada pula yang bermaksud menikmat...

Lampu Botol, Merawat Tradisi Melawan Kolonialisasi

"Besok, Kamu pergi ke pasar, cari pedagang yang menjual lampu botol. Beli 5 buah ya !" Perintah Ibu kepadaku.  "Memangnya, buat apa lampu botol itu, Ibu?"  "Loh, ini kan sudah akhir Ramdhan. Sudah menjadi tradisi keluarga kita sejak dulu untuk menyalakan lampu botol diakhir Ramdhan." Ibu menjelaskan. Karena masih penasaran, Aku terus mengejar dengan pertanyaan. "Boleh Ibu jelaskan, mengapa tradisi ini harus ada?" "Nak, Ibu tidak tahu persis dengan makna hakikinya. Ibu hanya pernah dijelaskan singkat oleh kakekmu. Menurutnya, lampu botol ini bermakna untuk menyambut lailatul qadar. Karena dulu tidak ada listrik. Sementara untuk menyambut malam ganjil yang special itu, masyarakat harus menerangi rumah dan lingkungannya. Selain itu, masih menurut kakekmu, lampu botol ini dipasang karena banyak masyarakat yang akan membagikan zakat fitrah setelah Tarawih. Jadi butuh penerangan." Terang Ibu. Aku masih belum puas d...

Shahrukh Khan, Mawaddah & Ustadz Radikal

Sebut saja Mawaddah, seorang gadis belia yang baru beranjak remaja. Dia pengagum berat Shahrukh Khan, bintang film Bollywood yang terkenal dengan Film Kuch-kuch Hota Hai. Mawaddah benar-benar terobsesi dengan pria cakep itu. Ketika Saya berkunjung ke rumahnya, terlihat begitu banyak poster raja bollywood tersebut. Mulai dari debut awal Shahrukh Khan di dunia perfilman hingga film terbarunya, terpampang di dinding-dinding kamar. Sungguh, Mawaddah pengagum berat bintang India itu.  Mawaddah bukan kerabat Saya. Kebetulan ia adalah murid SMA yang Saya nahkodai. Sudah 5 hari ia tidak masuk sekolah. Sebagai kepala sekolah, Saya harus berkunjung ke rumahnya untuk menemuinya dan orang tua atau walinya. Tidak ada kabar berita, gadis yang dikenal pintar dikelasnya ini membuat teman-teman dan guru di sekolah penasaran. Tidak biasanya ia absen tanpa keterangan di kelas. Teman sekelasnya mengakui bahwa Mawaddah adalah pribadi yang giat belajar termasuk taat dalam beribadah. Benar-benar ...

Gus Dur Tiada Habisnya

Nampaknya, membincangkan Abdurahman Wahid (Gus Dur), hampir tidak menuai kata henti. Kendati ia telah 'pergi', nafas perjuangannya masih terasa hingga kini. Lihat saja kutipan-kutipan banyak penulis, peneliti, akademisi bahkan para tokoh agama hampir sering mereka menyebut nama Gus Dur. Pemikiran dan kepribadiannya sering menjadi bahan ajar bagi pekerja sosial keagamaan yang pro demokrasi, toleransi dan kebhinekaan. Pada masa hidupnya, Gus Dur memiliki pesona dan kharisma luar biasa, maka tak heran jika mantan ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini menjadi ikon pemikiran Islam di Indonesia, bahkan diakui negara-negara internasional. Almarhum telah berhasil mengembangkan teologi Islam yang ramah, terbuka dan berpihak kepada kaum lemah tanpa memandang identitas orang lain. Oleh karenanya, ia pun mendapat sebutan sebagai bapak Pluralisme bangsa. Kesatria demokrasi. Lahir sebagai santri di tengah-tengah keluarga yang merupakan santri pula, Gus Dur telah memper...

Semua Ada Yang Suka & Tidak

Ulama satu dengan yang lain saja saling kritik. Dokter satu dengan lainnya, terlibat perdebatan. Akademisi, peneliti, tokoh politik dan semua komponen sering kita temui berdebat dan bahkan saling "hujat"... Bagaimana mungkin Anda ingin menjadi pejuang dengan mulus tanpa penilaian dari orang lain? Zidane dipuji, tapi juga dicaci. Para Nabi yang membawa kabar Tuhan diikuti tapi justru banyak yang membangkang. Abubakar, Umar, Usman dan Ali tak luput menjadi serangan para "negatron".  Banyak yang suka dengan Ust. Yusuf Mansur karena bisnis dan ketokohannya, namun tidak sedikit juga orang mengkritik bahkan menggunjingnya.  Siapa manusia hari ini yang Anda hormati?  Habib Rizieq Shihab? KH. Said Aqil Siradj? Amin Rais? Gusdur?  Atau Ust. Abu Janda dan Jonru?  Siapa?  Jokowi atau Prabowo?  Siapa?  Tunjukan ke saya jika mereka semua itu dicintai dan diikuti seluruh penduduk dunia, atau penduduk Indonesia? ...

Sapa Tau Jadi; Cinta Lintas Iman

Al Kindi Bilfagih, kakak kandung saya, begitu produktif dalam menciptakan lagu. Kendati telah disibukkan sebagai anggota DPRD Kab. Minahasa Tenggara, jiwa seni musik yang telah lama digeluti tak pernah pudar. Pantaslah ia pun Saya input sebagai majelis kebudayaan Lembaga Seni & Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PWNU Sulut. Pengetahuan tentang dunia musiknya tak diragukan lagi, walau hanya sekadar dilingkungan keluarga. Ia menjadi sumber inspirasi kami bersaudara. Belum lama ini, ia menciptakan lagu yang menurut saya menarik. 'Sapa Tau Jadi', begitu judulnya. Lagu berbahasa Manado ini menggambarkan sebuah fenomena pria muslim yang sedang jatuh cinta kepada wanita gereja. Muslim, karena pencipta lagu dan vocalisnya adalah Al Kindi Bilfagih. Meski latar ciptaan lagu ini terinspirasi dari saudara sepupu kami yang sering melamuni seorang gadis ketika melintas di depan rumah. Wanita gereja, secara kebetulan rumah kami bersebelahan dengan gereja. Saban Minggu, banyak jemaat...

Menakar Tuah dan Tulah Sang Habib & Kiai

Habib Rizieq Shihab dan Alm. KH. Abdurahman Wahid Belakangan, viral dimedsos perkara orang-orang yang sedang mendapat “ganjaran” akibat perbuatannya terhadap ulama. Belum lama, peristiwa kecelakaan dan kematian seseorang dikaitkan dengan tindakan menghina Habib Rizieq Shihab. Bagi pembelanya, Habib memiliki keutamaan mulia dengan segenap karamahnya. Selain itu, ada juga yang ramai tentang hal seperti ini, yakni fenomena isu tidak sedap beberapa tokoh yang dianggap bagian dari ganjaran mereka karena pernah menghina dan “mendzolimi” KH. Abdurahman Wahid (Gusdur). Baik Habib dan Kiai, oleh pencintanya dianggap sebagai wali yang memiliki keistimewaan. Keduanya sangat berpengaruh dan dihormati pengikutnya. Lihat saja gerakan dakwah yang dilakukan Habib. Buka juga sejarah perjuangan Sang Kiai. Tulisan ini tidak bermaksud membanding-bandingkan Habib Rizieq dengan Gusdur. Bukan pula bertujuan membeda-samakan keduanya. Sungguh, Saya tidak berniat demikian. Hanya memang, jika toh ada ...