Langsung ke konten utama

Sapa Tau Jadi; Cinta Lintas Iman

Al Kindi Bilfagih, kakak kandung saya, begitu produktif dalam menciptakan lagu. Kendati telah disibukkan sebagai anggota DPRD Kab. Minahasa Tenggara, jiwa seni musik yang telah lama digeluti tak pernah pudar. Pantaslah ia pun Saya input sebagai majelis kebudayaan Lembaga Seni & Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PWNU Sulut. Pengetahuan tentang dunia musiknya tak diragukan lagi, walau hanya sekadar dilingkungan keluarga. Ia menjadi sumber inspirasi kami bersaudara.

Belum lama ini, ia menciptakan lagu yang menurut saya menarik. 'Sapa Tau Jadi', begitu judulnya. Lagu berbahasa Manado ini menggambarkan sebuah fenomena pria muslim yang sedang jatuh cinta kepada wanita gereja. Muslim, karena pencipta lagu dan vocalisnya adalah Al Kindi Bilfagih. Meski latar ciptaan lagu ini terinspirasi dari saudara sepupu kami yang sering melamuni seorang gadis ketika melintas di depan rumah. Wanita gereja, secara kebetulan rumah kami bersebelahan dengan gereja. Saban Minggu, banyak jemaat melaksanakan ibadah di geraja. Tak terkecuali, sang gadis ayu itu.

Lagu 'Sapa Tau Jadi' menurut saya tidak hanya soal ekspresi rasa. Namun ia menjadi simbol perlawanan terhadap stigma miring yang dialamatkan bagi pemeluk agama. Bahwa, memiliki rasa cinta kepada orang yang berbeda agama bukan lagi hal yang tabu. Doktrin agama yang perlu mendapat kajian lebih kritis, yang membatasi hubungan lintas iman, saatnya dikontekstualisasi. Tanpa bermaksud memaksakan keadaan, nampaknya fenomena kehidupan dalam bingkai perbedaan meski diimplementasikan dengan laku hidup saling mengisi.

Walau lagu ini bukan bertujuan untuk membuka kesempatan perjumpaan lintas keyakinan, namun sebagai pesan moral dalam berkehidupan juga terlihat dengan jelas. Ya, sekali lagi, lagu ini diciptakan oleh Bung Kindi yang Muslim. Ia tak ragu, bahwa lakon pria yang jatuh hati kepada wanita gereja bukanlah sebuah kesalahan. Bahkan, pada lirik lagu ini ada ungkapan Sang Pria yang berusaha mencari tahu lebih jauh tentang gadis gereja itu.

So, baiknya nikmati saja lagu tersebut. Walau tak berkesan sekalipun. Celidot ... !

Postingan populer dari blog ini

Quantum Learning... !

Semasa menjadi kepala sekolah di SMA Alhikam, Desa Tumbak Kec. Pusomaen Kab. Minahasa Tenggara, Aku punya murid paling berandal. Hampir setiap hari malas sekolah dan pekerjaannya mengganggu orang lain. Bahkan tercatat beberapa kali berkelahi.  Dia perokok. Tapi Aku belum pernah tahu dan apalagi melihat ia minum minuman beralkohol. Jika toh ia pernah mabuk-mabukan, Aku yakin itu tidak dilakukan saat sekolah. Namun merokok, adalah pemandangan yang sering ku lihat saat ia masih berseragam.  Suatu ketika, di belakang gedung sekolah, ia dan teman-temannya sedang asik menikmati gumpalan asap rokok. Aku meradang. Rasa-rasanya ingin ku gampar satu persatu, terutama si berandal itu. Tapi Aku khawatir. Bertindak, harus dengan pikiran jernih. Mereka semua siswa yang secara fisik dan mental teruji bertindak anarkis. Bukannya takut, Aku hanya tidak ingin ada berita beredar, guru pukul murid, murid pukul guru, guru murid baku pukul. Jelasnya, Aku pasti kalah. Mereka gerombolan soalnya. Aku ...

Kebiasaan Mengeneralisir, Berujung Konflik

Suatu ketika, dalam diskusi ringan, kawan saya berujar "Di era digital ini, masyarakat kita harus menerima perkembangan zaman. Saya tidak setuju bahwa media sosial itu akan berpengaruh terhadap kebiasaan buruk seseorang. Buktinya saya, hingga saat ini tidak terpengaruh efek negatif medsos." Kawan saya ini nampaknya ingin menyamakan kepribadian orang lain dengan dirinya. Menurutnya, medsos adalah sesuatu yang positif. Semua orang berhak dan pasti dapat memanfaatkan medsos dengan  baik. Ia adalah seorang akademisi. Beberapa bulan lagi meraih gelar doktornya. Kendati dia jauh lebih muda dari saya, harus saya akui, ia orang yang tekun didunia pendidikan formal. Sayang, ia terjebak pada kekeliruan berpikir. Calon doktor ini mencoba mengeneralisir keadaan. Seolah semua orang punya pikiran dan sikap yang sama dengannya. Ia lupa, ada orang menggunakan medsos dengan bijak dan bajik, tetapi ada yang sedang memanfaatkan medsos demi agenda jahatnya. Ada pula yang bermaksud menikmat...

Lampu Botol, Merawat Tradisi Melawan Kolonialisasi

"Besok, Kamu pergi ke pasar, cari pedagang yang menjual lampu botol. Beli 5 buah ya !" Perintah Ibu kepadaku.  "Memangnya, buat apa lampu botol itu, Ibu?"  "Loh, ini kan sudah akhir Ramdhan. Sudah menjadi tradisi keluarga kita sejak dulu untuk menyalakan lampu botol diakhir Ramdhan." Ibu menjelaskan. Karena masih penasaran, Aku terus mengejar dengan pertanyaan. "Boleh Ibu jelaskan, mengapa tradisi ini harus ada?" "Nak, Ibu tidak tahu persis dengan makna hakikinya. Ibu hanya pernah dijelaskan singkat oleh kakekmu. Menurutnya, lampu botol ini bermakna untuk menyambut lailatul qadar. Karena dulu tidak ada listrik. Sementara untuk menyambut malam ganjil yang special itu, masyarakat harus menerangi rumah dan lingkungannya. Selain itu, masih menurut kakekmu, lampu botol ini dipasang karena banyak masyarakat yang akan membagikan zakat fitrah setelah Tarawih. Jadi butuh penerangan." Terang Ibu. Aku masih belum puas d...